Rabu, 19 Oktober 2016

SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME-JIT)

Pengertian Just In Time  (JIT)

Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis -jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.
Konsep just justin time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang/penyimpanan  barang /stocking cost.

Keuntungan JIT 
Tujuan  meningkatkan keuntungan dengan mereduksi biaya dan meningkatkan kualitas.
Manfaat dari penggunaan JIT adalah pengurangan dalam  persediaan WIP (Work in Process).
JIT meningkatkan partisipasi dari tenaga kerja dalam penyelesaian masalah dengan mendorong mereka untuk mereduksi waktu set up dan menyelesaikan masalah – masalah kualitas.

7 Jenis Penyebab Pemborosan 
- Over produksi 
- Waktu menunggu
- Transportasi
- Pemprosesan
- Tingkat persediaan barang
- Gerak 
- Cacat produksi 

Empat konsep pokok yang harus dipenuhi dalam melaksanakan Just In Time 
1.Produksi Just In Time(JIT) adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dandalam jumlah yangdiperlukan.
2.Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
3.Tenagakerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah -ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan .
4.Berpikir kreatif dan menampung saran -saran karyawan.

 Elemen-Elemen Just In Time
- Pengurangan waktu set up
- Aliran produksi lancar (layout)
- Produksi tanpa kerusakan mesin
- Produksi tanpa cacat
- Peranan operator
- Hubungan yang harmonis dengan pemasok
- Penjadwalan produksi stabil dan terkendali
- Sistem Kanban 

Senin, 17 Oktober 2016

ENTREPRENEURSHIP

Pengertian Kewirausahaan


Kewirausahaan adalah padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa Inggris, unternehmer dalam bahasa Jerman, ondernemen dalam bahasa Belanda. Sedangkan di Indonesia diberi nama kewirausahaan.
Kata entrepreneurship sendiri sebenarnya berawal dari bahasa Prancis yaitu „entreprende yang berarti petualang, pencipta, dan pengelola usaha. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantillon (1755). 
Istilah ini makin populer setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B Say (1803) untuk menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat yang lebih tinggi serta menghasilkan lebih banyak lagi.
Dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 tahun 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, bahwasanya ; “Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Wirausahawan
Kata wirausaha dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan dari kata “wira” yang artinya gagah berani, perkasa dan kata “usaha”, sehingga secara harfiah wirausahawan diartikan sebagai orang yang gagah berani atau perkasa dalam berusaha (Riyanti, 2003). 
Wirausaha atau wiraswasta menurut Priyono dan Soerata (2005) berasal dari kata “wira” yang berarti utama, gagah, luhur berani atau pejuang; “swa” berarti sendiri; dan kata ”sta” berarti berdiri. Dari asal katanya “swasta” berarti berdiri di atas kaki sendiri atau berdiri di atas kemampuan sendiri. Kemudian mereka menyimpulkan bahwa wirausahawan atau wiraswastawan berarti orang yang berjuang dengan gagah, berani, juga luhur dan pantas diteladani dalam bidang usaha, atau dengan kata lain wirausahawan adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewirausahaan atau kewiraswastaan seperti: keberanian mengambil resiko, keutamaan dan keteladanan dalam menangani usaha dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri.

Tiga jenis perilaku wirausahawan :
1. Memulai inisiatif
2. Mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme sosial/ekonomi untuk merubah sumber daya dan situasi dengan cara praktis
3. Diterimanya resiko dan kegagalan

Tiga tipe utama dari wirausaha yaitu :
1. Wirausaha Ahli (Craftman)
Wirausaha ahli atau seorang penemu memiliki suatu ide yang ingin mengembangkan proses produksi sistem produksi, dan sebagainya. Wirausaha ahli ini biasanya seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan besar kemudian memutuskan untuk keluar sebagai pegawai dan memulai bisnisnya sendiri.
2. The Promoter
The promoter adalah seorang individu yang tadinya mempunyai latar belakang pekerjaan sebagai sales atau bidang marketing yang kemudian mengembangkan perusahaan sendiri.
3. General Manager
General manajer adalah seorang individu yang ideal yang secara sukses bekerja pada sebuah perusahaan, dia banyak menguasai keahlian bidang produksi, pemasaran, permodalan dan pengawasan.
Berdasarkan uraian di atas istilah entrepreneur mempunyai arti yang berbeda pada setiap orang karena mereka melihat konsep ini dari berbagai sudut pandang. Namun demikian ada beberapa aspek umum yang terkandung dalam pengertian entrepreneur yaitu adanya unsur risiko, kreativitas, efisiensi, kebebasan dan imbalan.

Karakteristik Wirausahawan Menurut McClelland :
1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada resiko-resiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5. Rangsangan oleh umpan balik
6. Aktivitas energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Keterampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap terhadap uang

Kunci penting seorang wirausahawan adalah INOVASI

Penentuan Potensi Kewirausahaan
Hal-hal yang dapat memberikan potensi bagi kewirausahaan yaitu karakteristik wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi, sebagai berikut :
- Kemampuan inovatif
- Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
- Keinginan untuk berprestasi
- Kemampuan perencanaan realistis
- Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
- Obyektivitas
- Tanggung jawab pribadi
- Kemampuan beradaptasi
- Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator

Kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi
menurut McClelland ada tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi,yaitu :
- Kebutuhan untuk berprestasi (n Ach
Mereka yang memiliki n. Ach rendah mungkin akan memilih tugas yang mudah, untuk meminimalisasi risiko kegagalan, atau tugas dengan kesulitan tinggi, sehingga bila gagal tidak akan memalukan. Mereka yang memiliki n. Ach tinggi cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan moderat, mereka akan merasa tertantang tetapi masih dapat dicapai. Mereka yang memiliki n.Ach tinggi memiliki karakteristik dengan kecenderungan untuk mencari tantangan dan tingkat kemandirian tinggi. Orang-orang yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement/n-Ach) yang tinggi mencoba melampaui dan dengan demikian cenderung menghindari situasi yang berisiko rendah dan tinggi. Orang-orang yang berprestasi tinggi (achievers) menghindari situasi dengan risiko rendah karena dengan mudah mencapai kesuksesan yang bukan pencapaian yang sungguh-sungguh.
- Kebutuhan berafiliasi (n Afill
Mereka yang memiliki kebutuhan affiliasi (need for affiliation/n-Aff) tinggi membutuhkan hubungan kemanusiaan dengan orang lain dan membutuhkan rasa diterima dari orang lain. Mereka cenderung memperkuat norma-norma dalam kelompok kerja mereka. Orang dengan n.Aff tinggi cenderung bekerja pada tempat yang memungkinkan interaksi personal. Mereka bekerja dengan baik pada layanan customer dan situasi interaksi dengan pelanggan.
- Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)

n-pow adalah motivasi terhadap kekuasaan. Karyawan memiliki motivasi untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status dan prestise pribadi.

Sumber Gagasan Bagi Produk dan Jasa Baru :
Ø   Kebutuhan akan sumber penemuan
Ø   Hobi atau kesenangan pribadi
Ø   Mengamati kecenderungan-kecenderungan
Ø   Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada
Ø   Mengapa tidak terdapat ?
Ø   Kegunaan lain dari barang-barang biasa
Ø   Pemanfaat produk dari perusahaan lain 

Titik Pulang Pokok Atau Break Event POint (BEP)
Titik pulang pokok adalah teknik untuk menentukan seberapa banyak satuan yang harus di jual atau seberapa banyak volume penjualan yang harus di capai agar tercapai posisi pulang pokok ( tidak rugi tidak untung).

Analisa  titik pulang pokok adalah proses menghasilkan informasi yang mengikhtisarkan berbagai tingkat keuntungan yang berkaitan dengan berbagai tingkat produksi.

Unsur-unsur  Titik  Pulang  Pokok Atau Break Event POint (BEP)
1.  Biaya tetap
Adalah pengeluaran yang di adakan oleh generasi tanpa melihat jumlah produk yang di hasilkan. contoh nya : pajak tanah, pemeliharaan bangunan, dll.
2.  Biaya Variabel
Adalah pengeluaran yang berfluktuasi dengan jumlah produk yang di hasilkan.
contoh nya : biaya pembungkusan produk biaya bahan baku yang di butuhkan untuk membuat produk. Dll.
3.  Biaya total
Adalah biaya  total dan biaya variabel yang berkaitan dengan produksi.
4.  Pendapatan Total.
Adalah semua nilai rupiah penjualan yang terakumulasi dari penjualan produk.
5.  Keuntungan
keuntungan di definisikan sebagai jumlah pendapatan total yang melebihi biaya total dari  produksi barang yang di jual.
6.  Kerugian
kerugian adalah jumlah biaya total b iaya barang yang melebihi pendapatan total yang di peroleh dari penjualan barang tersebut.

Bentuk-Bentuk Kepemilikan Perusahaan
a. Pemilikan tunggal / perseorangan : (firma)
          Dimiliki dan dijalankan oleh 1 orang
          Pemilik tidak perlu membagi laba
b. Kongsi
           Ada perjanjian tertulis
           Dimiliki 2 orang atau lebih
           Umur perusahaan terbatas
           Pemilikan bersama atas harta
           Ikut serta dalam manajemen dan pembagian laba
c. Perusahaan Perseroaan
           Perusahaan dengan badan hukum
           Kewajiban pemilik saham terbatas pada jumlah saham yang dimiliki
           Pemilikan dapat berpindah tangan
           Eksitensi relatif lebih stabil/permanen
Go Publik
Go publik terjadi ketika perusahaan menawarkan dan menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat melalui pendaftaran Bapepam
Keuntungan :
          diperoleh modal baru
          masyarakat lebih mengenal perusahaan
Kerugian :
          ada kecenderungan terbukanya rahasia perusahaan
          mahalnya biaya


SUMBER DAYA MANUSIA BAGI ORGANISASI KEWIRAUSAHAAN

Individu-individu dalam organisasi kerwirausahaan yang dapat memberikan kontribusi atau sumbangan yang berharga berupa peroduktivitas dari posisi yang mereka pegang untuk mencapai tujuan sistem organisasi kewirausahaan
Langkah-langkah penyediaan sumber daya manusia :
  1. Perekrutan karyawan
  2. Seleksi calon karyawan
  3. Pelatihan karyawan
  4. Penilaian hasil kerja
Sumber Dari Sumber Daya Manusia
Sumber dari dalam organisasi :
         Karier
         Promosi jabatan
         Rotasi jabatan
Sumber dari luar organisasi :
         Para pesaing
         Badan/agen penempatan kerja
         Lembaga pendidikan
         Mass media informasi

Seleksi
Adalah pemilihan individu untuk disewa dari semua individu-individu yang telah direkrut.
Tahap-Tahap Proses Seleksi
         Penyaringan Pendahuluan dari rekaman, berkas data, dll
         Wawancara Pendahuluan
         Tes Kecerdasan (intelegence)
         Tes Bakat (Aptitude)
         Tes Kepribadian (Personality)
         Rujukan Prestasi (Performance References)
         Wawancara Dianostik
         Pemeriksaan Kesehatan
         Penilaian Pribadi